28 May 2019

Lelah

Akhir-akhir ini, aku kerap merasa kelelahan. Sebanyak apapun aku tidur, seberapa suap nasi yang aku makan, seberapa lamanya aku melakukan rekreasi. Tetap saja, aku merasa sangat lelah.

Aku sama sekali tidak tahu ada apa dengan diriku. Padahal, segala yang aku perlukan dan inginkan dalam realita sangat dekat denganku. Aku memiliki atap di atas kepalaku, sebuah kasur untuk tidur... segala sandang, pangan, papan. Lengkap.

Namun realita ini juga menyodorkanku dengan berbagai permasalahan dan tekanan. Saat ini aku tengah berkuliah di salah satu universitas ternama di Indonesia, tempatku tinggal. Aku merasa begitu kecil di antara orang-orang yang hebat. Aku juga merasa begitu tidak signifikan di tengah lautan manusia yang berprestasi*.

Sejujurnya, terkadang, aku merasa begitu sendiri. Orang lain terlihat begitu sibuk dengan dunianya; ya, aku pun sibuk dengan duniaku sendiri... tetapi tetap saja, rasa sepi itu menyelimutiku. Segala sapaan yang terasa sebagai formalitas, bantuan yang berdasarkan keinginan. Semua mengejar kepentingan mereka masing-masing. Ya, kenyataan itu memang wajar; lagipula untuk apa kita bersusah payah atas nama orang lain? Namun tetap saja, hal ini membuatku merasa begitu sedih...

Berikut berbagai masalah yang aku alami di kehidupan kampus ini, mulai dari yang emosional sampai yang administratif. Betapa aku merasa sangat tidak penting saat harus mengurus sesuatu ke kantor tata usaha atau semacamnya. Berhadapan dengan birokrat yang tidak tersenyum dan kurang memperhatikan eksistensimu sebagai seorang manusia cukup menyakitkan.

Ya, barangkali aku memang terlalu sensitif. Barangkali, memang akulah yang terlalu perasa akan hal-hal ini. Namun, patut untuk diakui bahwa hal-hal yang aku rasakan nyata adanya. Aku memang merasa kelelahan, salah satunya karena alasan-alasan yang telah aku tulis di atas.

Selain itu, berbagai keanehan yang harus aku hadapi dengan manusia lain pun semakin beragam. Di tengah kehidupan kampus dengan aspek akademis dan ekstrakulikulernya, aku berinteraksi dengan berbagai macam manusia. Mulai dari yang paling menyenangkan, sampai yang membuatku enggan untuk berpapasan muka dengannya lagi. Jenis yang kedua sangat membuatku tidak habis pikir. Ternyata ada ya orang seperti dia? Dan, ya, itulah kenyataannya. Aku semakin percaya bahwa segala jenis manusia yang bisa kita pikirkan itu sebenarnya ada di muka bumi ini; atau, setidaknya pernah ada.

Sekali lagi, barangkali akulah yang terlalu idealis. Barangkali juga, seharusnya hal-hal yang aku tulis di sini tidak pantas untuk disebut sebagai masalah. Saat seseorang tertimpa batu yang besar, misalnya, nah, itu baru masalah. Atau saat seseorang sedang terbaring tanpa daya karena sebuah penyakit yang mematikan, misalnya--nah, itu baru masalah.

Kadang aku pun berpikir, apakah pantas aku merasa lelah karena alasan-alasan tersebut? Padahal, aku masih sangat lebih beruntung daripada banyak orang di luar sana. Namun, aku tetap mengakui bahwa aku merasa lelah. Aku tetap menerima kelelahanku ini. Aku memang tidak sekuat banyak orang di luar sana, yang dapat melalui berbagai cobaan fisik dan mental yang lebih besar daripada aku. Oleh karena itu, aku tidak pernah ingin mencambuk diriku dengan berkata bahwa tidak seharusnya aku merasa seperti ini. Perasaan adalah sesuatu yang alami dan manusiawi, oleh karena itu aku tidak ingin mengusir dengan paksa sesuatu yang seharusnya hanya harus aku manajemen dengan baik.

Sejujurnya, aku pun akhirnya menulis di blog yang sudah lama aku abaikan ini karena aku sudah tidak tahu lagi hendak menulis di mana. Aku merasa sangat perlu untuk melepaskan kepenatan ini dari dalam diriku, untuk berkatarsis, menyatakan hal-hal yang selama ini aku pendam sendiri. Di sisi lain, aku pun enggan untuk membagikan tulisan-tulisan yang bersifat sangat emosional ini ke tempat-tempat yang dapat dengan mudah diakses oleh orang-orang yang berada di sekitarku. Aku tidak nyaman apabila mereka memiliki pengetahuan atas rasa lelahku ini, aku pun tidak ingin melempar kesan bahwa aku memerlukan perhatian khusus, yang membuatku akhirnya menulis di tempat-tempat yang di sana banyak orang melihat tulisanku.

Dengan paragraf ini, tulisan ini ingin aku cukupkan. Aku merasa lebih nyaman setelah aku menuliskan hal-hal yang selama ini tersangkut di dalam diriku. Aku harap, Allah memberikanku kekuatan dan kemampuan untuk bisa menghadapi realita yang tidak selalu mengenakkan ini, apapun keadaannya. Karena hidup memang merupakan urutan dari masalah demi masalah yang tidak henti, oleh karena itu, semoga aku bisa berdamai dengan realita itu.

*Aku tahu, tidak hanya aku yang merasa seperti ini. Banyak orang-orang lain yang "mediocre" sepertiku di universitas ternama ini merasakan hal yang sama. But still, this normal and hurtful feeling is also mine.

No comments:

Post a Comment